Skip to content

Memahami Wanita

January 13, 2012

PANDUAN UNTUK PARA LELAKI

Mengapa wanita suka menangis untuk mendapatkan keinginannya? Mengapa wanita berkeras untuk terus membicarakan suatu pokok masalah tertentu sampai mati? Mengapa wanita cerewet? Mengapa wanita tidak lebih sering berinisiatif dalam urusan seks?

“yang perlu diketahui” yang selama ini selalu mengganggu pikiran para pria tatkala mereka bangun seorang diri pada pagi hari atau tatkala pasangan wanitanya sudah tidak mau lagi mengajaknya bicara. Dengan bantuan sains, kini dapat diterangkan mengapa wanita banyak berbicara, sering ’berputar-putar’, ingin tahu sampai mendetail tentang setiap orang yang ada di sekelilingnya dan jarang mengambil inisiatif dalam urusan seks.

 Seorang wanita mencemaskan tentang masa depannya hinggadia memperoleh seorang suami. Seorang pria tidak pernahmencemaskan tentang masa depannya hingga dia memperolehseorang istri.

Kaum wanita pun saat ini juga mengalami dilema. Feminisme pada awalnya adalah sebuah cara untuk menyampaikan adanya ketidaksetaraan antara pria dan wanita dan ia menjanjikan kebebasan kepada kaum wanita dari rantai yang selama ini mengikat mereka di dapur, sumur dan kasur. Pada hari ini, sekitar 50% kaum wanita di dunia Barat bekerja— baik mereka pernah menginginkannya ataupun tidak. Di Inggris, satu di antara lima keluarga kepala rumah tangganya adalah seorang wanita lajang, sedangkan satu di antara lima puluh keluarga oleh seorang pria lajang. Wanita-wanita tersebut kini diharapkan berperan sebagai ibu, ayah, dan pemberi nafkah. Kini kaum wanita mulai terserang sariawan, bisulan, serangan jantung dan menderita penyakit-penyakit yang berhubungan dengan stress, sebagaimana halnya biasa dialami oleh kaum pria.

 Hingga tahun 2000, diperkirakan 25% dari semua wanita di dunia barat akan melajang secara permanen. Ini adalah sebuah situasi yang tidak alami dan sepenuhnya bertentangan dengan dorongan-dorongan dasar manusia dan biologis kita. Kaum wanita kini terbebani banyak pekerjaan, sering marah-marah dan makin sendirian. Kaum pria merasa bahwa kaum wanita ingin agar mereka berpikir dan bersikap seperti wanita juga. Kita semua telah menjadi bingung. Buku ini memberikan peta yang akan membantu Anda menembus kesimpang-siuran hubungan yang telah berkembang, dan  emungkinkan Anda untuk mengidentifikasi titik tolak yang palsu, tikungan-tikungan yang sulit, dan jalan buntu.

Kaum wanita berkembang untuk mengandung anak dan menjadi penjaga sarang dan, hasilnya, otak wanita telah terprogram untuk mengasuh, memberi makan, mencintai dan merawat orang lain dalam hidup mereka. Wanita menulis sebagian besar buku tentang hubungan antarmanusia, dan lebih dari 80% pembelinya adalah wanita. Kebanyakan buku-buku ini cenderung memfokuskan pada kaum pria, apa kesalahan yang mereka kerjakan dan bagaimana caranya Anda dapat memperbaiki mereka. Kebanyakan penasihat masalah hubungan dan ahli terapi juga wanita. Bagi seorang pengamat yang netral, hal ini dapat memberikan kesan bahwa kaum wanita lebih perhatian tentang masalah menjalin hubungan daripada kaum pria. Dalam banyak hal, ini memang benar. Konsep untuk fokus pada sebuah hubungan bukanlah suatu bagian alami dari kejiwaan, pemikiran, atau skala prioritas kaum pria. Konsekuensinya, kaum pria tidak berusaha dengan sungguh-sungguh dalam masalah menjalin hubungan atau bagi mereka mudah saja mengakhirinya, karena mereka berpendapat bahwa cara kaum wanita dalam berpikir dan bertindak terlalu ruwet. Kadang- kadang tampak semuanya terlalu sulit dan lebih mudah untuk mengakhirinya lebih dini daripada dianggap gagal. Namun sesungguhnya pria pun menginginkan adanya hubungan yang baik, sehat, dan memuaskan sebagaimana halnya kebanyakan wanita. Mereka sekadar berasumsi bahwa pada suatu hari nanti akan hadir sebuah hubungan yang sempurna, tanpa diperlukan adanya studi pendahuluan atau persiapan. Kaum wanita secara rutin melakukan kesalahan dengan berasumsi bahwa hanya karena seorang pria mencintainya, maka si pria juga harus memahaminya. Namun biasanya tidaklah demikian keadaannya. Kita menyebut satu sama lain sebagai “lawan jenis” karena memang untuk suatu alasan yang tepat—kita memang berlawanan.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: